
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Disalin ulang dari buku 'Kutitip Surat Ini Untukmu..' karya alUstadz Armen
Halim Naro -rahimahullah-.
Terbitan Nadwah Publishing - Pekanbaru.
Kutitip surat ini, anakku!
Ananda yang kusayangi, di bumi Allah Ta'ala..
Segala puji Ibu panjatkan ke hadirat Allah yang telah memudahkan Ibu untuk
beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amiin..
Wahai anakku,
Surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung sengsara.. Setelah berpikir
panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan
rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap itu pula goresan
tulisan terhalangi oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu
pula hati terluka..
Wahai anakku,
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki
dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca
tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya,
sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hatiku dan telah engkau robek pula
perasaanku.
Wahai anakku,
25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam
kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku dan
semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan
bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan
emosi. Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan, tidur, berdiri,
makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi
cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan
dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan tendangan kakimu atau geliat
badanmu dalam perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena
semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti semakin sengkau sehat wal
afiat dalam rahimku.
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar
pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap
pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa
dilukiskan.
Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak lagi dapat menangis.
Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari dipelupuk mataku, hingga
tibalah waktunya engkau keluar kedunia.
Engkaupun lahir.. Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan
senantiasa menetes dalam keharuan dan kebahagiaan. Dengan itu semua, sirna
semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan
kasihku kepadamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya rasa sakit. Aku
raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk
satu tetes air yang ada di kerongkonganku.
Wahai anakku.. Telah berlalu tahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku dan
memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan
kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.
Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku
setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu
untukmu.. itulah kebahagianku!
Kemudian, berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun
berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah
lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang
tidak pernah mengenal lelah serta mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa.
Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumismu dan jambang tipis telah
menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik
ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.
Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. Saat itu
pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya
hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula
dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau
pelipur hatiku akan berpisah denganku.
Waktu pun berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah
perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi
pelipur duka dalam kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang
ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu,
sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang
hening dan dalam, bersama dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak
mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik
demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan
sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti
kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku menyangka bahwa engkaulah orang
yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang
menelepon. Setiap suara kendaraan lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia, dan harapanku hancur
berkeping, yang ada hanya keputusasaan, yang tersisa hanyalah kesedihan dari
semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang
memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku.. Ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang
bukan-bukan. Yang ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.
Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar senantiasa
dapat menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa
kecilmu.
Yang ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat
persinggahanmu, agar engkau dapat pula sekali-kali singgah ke sana sekalipun
hanya satu detik, jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah
engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup
hidungmu dan engkau pun berlalu pergi.
Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku
telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit.. Berdiri seharusnya
dipapah, duduk pun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih
seperti dulu.. Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti
angin yang tidak pernah berhenti.
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan
balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu.. Mana balas
budimu nak? Mana balasan baikmu?! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan
air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak? Susu yang ibu berikan engkau balas
dengan tuba?! Bukankah Alla Ta'ala berfirman;
"Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?" [QS.
arRahman:60]
Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah
berlalunya hari dan berselangnya waktu?!
Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu,
setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah
dari kedua tanganku, engkaulah hasil keletihanku, engkaulah laba dari semua
usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku
musuh bebuyutanmu? Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama
bergaul denganmu, atau pernahkan aku berbuat lalai dalam melayanimu?
Lalu, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak
dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Mereka semua
telah mendapatkan upahnya, lalu mana upah yang layak untukku, wahai anakku?
Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan
kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi
mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah Ta'ala mencintai
orang yang berbuat baik.
Wahai anakku! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak ingin menginginkan
yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal
afiat. Orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki yang supel,
dermawan dan berbudi. Anakku.. tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang
wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah
renta ini, ia binasa dimakan rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian
kedukaan?! Bukan karena apa-apa! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil
mengeluarkan air matanya.. Hanya karena engkau telah membalasnya dengan dengan
luka di hatinya.. Hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan
belati durhakamu tepat menghujam jantungya.. Hanya karena engkau telah berhasil
pula memutuskan tali silaturrahum?!
Wahai anakku, Ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan
itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan
balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang
Allah Ta'ala, sebagaimana Rasulullah telah sabdakan:
"Orang tua adalah pintu Surga yang di tengah, sekiranya engkau mau,
sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!" [HR. Ahmad]
Anakku, aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau
beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan Surga begitu
tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan berjamaah dan shaf pertama.
Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.
Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu
keutamaan besar yang terlalaikan olehmu, yaitu bahwa Nabi yang mulia
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu berkata: 'Aku bertanya kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, 'Wahai Rasulullah, amal apa yang
paling mulia?' Beliau berkata: 'Shalat pada waktunya', aku berkata: 'Kemudian
apa, wahai Rasulullah?' Beliau berkata: 'Berbakti kepada orang tua', aku
berkata: 'Kemudian apa, wahai Rasulullah!', Beliau menjawab, 'Jihad di jalan
Allah', lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan
menjawabnya," [HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad]
Wahai anakku! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau perlu bersusah payah untuk
memerdekakan budak atau untuk berletih dalam berinfak.
Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga
dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?!
Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya
tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah,
orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya sebuah
perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang
kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau
telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang
maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat
amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah, dan murkaku adalah
kemurkaanNya jua?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan
engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam sabdanya:
"Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang, dikatakan
(kepada Rasulullah): 'Siapa dia wahai Rasulullah?', beliau menjawab: 'Orang
yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannnya ke
Surga," [HR. Muslim]
Anakku.. Aku tidak angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini
kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan,
melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan
yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku
tidak akan melakukannya, nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau
adalah jantung hatiku.. Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke
langit sedangkau engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana ibu tega melihatmu
merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupkku?
Bangunlah, nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu, akan berlalu masa
sehingga engkau akan menjadi tua, dan al-jaza' min jinsil 'amal.. Engkau akan
memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.. Aku tidak ingin engkau nantinya
menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu
sebagaimana aku menulismu dengan air mata itu pula kepadamu.
Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!
Sesungguhnya Surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya,
kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.
Anakku.. Setelah engkau membaca surat ini, terserah kepadamu! Apakah engkau
sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu.
Kepada Yang Tercinta Bundaku Yang Ku Sayang
Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memuliakan kedudukan kedua orang tua,
dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga. Shalawat
serta salam, hamba yang lemah ini panjatkan keharibaan Nabi yang mulia,
keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…
Ibu… aku terima suratmu yang engkau tulis dengan tetesan air mata dan duka, dan
aku telah membacanya, ya aku telah mengejanya kata demi kata… tidak ada satu
huruf pun yang aku terlewatkan.
Tahukah engkau, wahai Ibu, bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya’ dan baru
selesai membacanya setelah ayam berkokok, fajar telah terbit dan adzan pertama
telah dikumandangkan?! Sebenarnyalah surat yang engkau tulis tersebut jika
ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah, sekiranya diletakkan ke atas daun
yang hijau tentu dia akan kering. Sebenarnyalah surat yang engkau tulis
tersebut tidak tersudu oleh itik dan tidak tertelan oleh ayam. Sebenarnyalah
bahwa suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan… bagaikan awan kaum Tsamud
yang datang berarak yang telah siap dimuntahkan kepadaku…
Ibu… Aku baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti!! Bagaimana
tidak, sekiranya surat itu ditulis oleh orang yang bukan ibu dan ditujukan pula
bukan kepadaku, layaklah orang mempunyai hati yang keras ketika membaca surat
itu menangis sejadi-jadinya. Bagaimana kiranya yang menulis itu adalah bunda
dan surat itu ditujukan untuk diriku sendiri!!
Aku sering membaca kisah dan cerita sedih, tidak terasa bantal yang dijadikan
tempat bersandar telah basah karena air mata, aku juga sering menangis melihat tangisnya
anak yatim atau menitikkan air mata melihat sengsaranya hidup si miskin. Aku
acap kali tersentuh dengan suasana yang haru dan keadaan yang memilukan, bahkan
pada binatang sekalipun. Bagaimana pula dengan surat yang ibu tulis itu!?
Ratapan yang bukan ibu karang atau sebuah drama yang ibu perankan?! Akan tetapi
dia adalah sebuah kenyataan…
Bunda yang kusayangi…
Sungguh berat cobaanmu… sungguh malang penderitaanmu… semua yang engkau telah
sebutkan benar adanya. Aku masih ingat ketika engkau ditinggal ayah pada masa
engkau hamil tua mengandung adikku. Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan
uang belanja, jadilah engkau mencari apa yang dapat dimasak di sekitar rumah
dari dedaunan dan tumbuhan. Dengan jalan berat engkau melangkah ke kedai untuk
membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yang
engkau ambil tersebut sebagai hutang dan hendaklah dicatat dulu. Hutang yang
engkau sendiri tidak tahu kapan engkau akan dapat melunasinya.
Ibu… aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis untuk dibuatkan makanan,
engkau tiba-tiba menggapai atap dapur untuk mengambil kerak nasi yang telah
lama engkau jemur dan keringkan, tidak jarang pula engkau simpan untukku
sepulang sekolah tumbung kelapa, hanya untuk melihat aku mengambilnya dengan
segera. Atau aku masih ingat, engkau sengaja mengambilkan air didih dari nasi
yang sedang dimasak, ketika engkau temukan aku dalam keadaan sakit demam.
Ibu… maafkanlah anakmu ini, aku tahu bahwa semenjak engkau gadis sebagaimana
yang diceritakan oleh nenek sampai engkau telah tua sekarang, engkau belum
pernah mengecap kebahagiaan. Duniamu hanya rumah serta halamannya, kehidupanmu
hanya dengan anak-anakmu. Belum pernah aku melihat engkau tertawa bahagia
kecuali ketika kami anak-anakmu datang ziarah kepadamu. Selain dari itu tidak
ada kebahagiaan, hari-harimu adalah perjuangan. Semua hidupmu hanya
pengorbanan.
Ibu… Maafkan aku anakmu ini! Semenjak engkau pilihkan untukku seorang istri,
wanita yang telah engkau puji sifat dan akhlaknya, yang engkau telah sanjung
pula suku dan negerinya!! Engkau katakan ketika itu padaku, “Ambilah ia sebagai
istrimu, gadis yang pemalu yang pandai bergaul, cantik dan berakhlak mulia,
punya hasab dan nasab!.”
Semenjak itu pula aku seakan-akan lupa denganmu. Keberadaan dia sebagai istriku
telah membuatku lupa posisi engkau sebagai ibuku, senyuman dan sapaannya telah
membuatku terlena dengan sapaan dan himbauanmu.
Ibu… aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, karena ia telah
menunaikan kewajibannya sebagai istri, terutama perhatiannya dalam berbakti
kepadamu, sudah berapa kali ia memintaku untuk menyediakan waktu untuk
menziarahimu. Hari yang lalu ia telah buatkan makanan buatmu, akan tetapi aku
tidak punya waktu mengantarkannya, hingga makanan itu telah menjadi basi…
Aku berharap pada permasalahan ini engkau tidak membawa-bawa namanya dan
mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya. Karena selama ini, di mataku dia
adalah istri yang baik, istri yang telah berupaya banyak untuk kebahagiaan
rumah tangganya.
Ibu… Ketika seorang laki-laki menikah dengan seorang wanita, maka seolah-olah
dia telah mendapatkan permainan baru, seperti anak kecil mendapatkan boneka
atau orang-orangan. Sekali lagi maafkan aku! Aku tidaklah membela diriku,
karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku.. anakmu ini!!
Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yang kualami, perubahan suasana
setelah engkau dan aku berpisah dan perubahan jiwa ketika aku tidak hanya
mengenal dirimu, tapi kini aku telah mengenal satu wanita lagi.
Ibu… perkawinanku membuatku masuk ke dunia baru, dunia yang selama ini tidak
pernah kukenal, dunia yang hanya ada aku, istri dan anakku!! Bagaimana tidak,
istri yang baik dan anak-anak yang lucu-lucu!! Maafkan aku Ibu… aku merasa
dunia hanya milik kami, aku tidak peduli dengan keadaan orang lain, yang
penting bagiku adalah keadaan mereka.
Ibu… Maafkan aku, anakmu!! Aku telah lalai… aku telah lupa… aku telah
menyia-nyiakanmu!! Aku pernah mendengar kajian, bahwa orang tua difitrahkan
untuk cinta kepada anaknya, dan anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang
tuanya. Oleh sebab itu dilarang mencintai anak secara berlebihan dan anak
dilarang berbuat durhaka kepada orang tuanya.
Itulah yang terjadi pada diriku, wahai Ibu!! Aku seperti orang linglung ketika
melihat anakku sakit, aku seperti orang kebingungan ketika melihat anakku
diare. Tapi itu sulit, aku rasakan jika hal itu terjadi padamu atau pada ayah!!
Ibu… Sulit aku merasakan perasaanmu!! Kalaulah bukan karena bimbingan agama
yang telah lama engkau talqinkan kepadaku, tentu aku telah seperti kebanyakan
anak-anak yang durhaka kepada orang tuanya!! Kalaulah bukan karena baktimu pula
kepada orang tuamu dan orang tua ayah, niscaya aku tidak akan pernah mengenal
arti bakti kepada orang tua.
Setelah suratmu datang, baru aku mengerti!! Karena selama ini hal itu tidak
pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua
permasalahan berat yang engkau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti, bahwa hari yang sulit bagi seorang ibu, adalah hari
di mana anaknya telah menikah dengan seorang wanita. Di matanya wanita yang
telah mendampingi putranya itu adalah manusia yang paling beruntung.
Bagaimana tidak!! Dia dapatkan seorang laki-laki yang telah matang pribadi dan
matang ekonomi dari seorang ibu yang telah letih membesarkannya. Dengan detak
jantungnya ia peroleh kematangan jiwa dan dari uang ibu itu pula ia dapatkan
kematangan ekonomi. Sekarang dengan ikhlas dia berikan kepada seorang wanita
yang tidak ada hubungannya, kecuali hubungan dua wanita yang saling berebut
perhatian seorang laik-laki. Laki-laki sebagai anak dari ibunya dan ia sebagai
suami dari istrinya.
Ibuku sayang…
Maafkan aku Ibu!! Ampunkan diriku. Satu tetesan air matamu adalah lautan api
bagiku. Janganlah engkau menangis lagi, jangan engkau berduka lagi!! Karena
duka dan tangismu menambah dalam jatuhku ke dalam api neraka!! Aku takut Ibu…
aku cemas dengan banyaknya dosaku kepada Allah sekarang bertambah pula dengan
dosaku terhadapmu. Dengan apa aku ridho Allah, sekiranya engkau tidak
meridhoiku. Apa gunanya semua kebaikan sekiranya di matamu aku tidak punya
kebaikan!! Bukankah ridho Allah tergantung dengan ridhomu dan sebaliknya
bukankah kemurkaan Allah tergantung dengan kemurkaanmu!! Tahukah engkau Ibu,
seburuk-buruknya diriku, aku masih merasakan takut kepada murka Allah!! Apalah
jadinya hidup jika hidup penuh dengan murka dan laknat serta jauh dari berkah
dan nikmat.
Kalau akan murka itu pula yang aku peroleh, izinkan aku membuang semua
kebahagiaanku selama ini, demi hanya untuk dapat menyeka air matamu! Kalau akan
engkau pula murka kepadaku, izinkan aku datang kepadamu membawa segala yang aku
miliki lalu menyerahkannya kepadamu, lalu terserah engkau, mau engkau perbuat
apa?!
Sungguh aku tidak mau masuk neraka! Seakalipun -wahai Bunda- aku memiliki
kekuasaan seluas kekuasaan Firaun, mempunyai kekayaan sebanyak kekayaan Qarun
dan mempunyai keahlian setinggi ilmu Haman. Pastikan wahai Bunda tidak akan aku
tukar dengan kesengsaraan di akherat sekalipun sesaat. Siapa pula yang tahan
dengan azab neraka, wahai Bunda!!
Ibu maafkan anakmu!! Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada
Allah ta’ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit!! Maka, ampun,
wahai Ibu!! Aku angkat seluruh jemariku dan sebelas dengan kepala untuk mohon
maaf kepadamu!! Kalaulah itu yang terjadi, do’a itu tersampaikan! Salah ucap
pula lisanmu!! Apalah jadinya nanti diriku!! Tentu kebinasaan yang telak. Tentu
diriku akan menjadi tunggul yang tumbang disambar petir, apalah gunanya
kemegahan sekiranya engkau do’akan atasku kebinasaan, tentu aku akan menjadi
pohon yang tidak berakar ke bumi dan dahannya tidak bisa sampai ke langit, di
tengahnya dimakan kumbang pula!!
Kalaulah do’amu terucap atasku, wahai Ibu!! maka, tidak ada lagi gunanya hidup,
tidak ada lagi gunanya kekayaan, tidak ada lagi gunanya banyak pergaulan.
Ibu dalam sejarah anak manusia yang kubaca, tidak ada yang bahagia setelah kena
kutuk orang tuanya. Itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimana
nasib bagi yang terkena kutuk di akherat, tentu lebih sengsara.
Ibu… setelah membaca suratmu, baru aku menyadari kekhilafan, kealfaan dan
kelalaianku. Suratmu akan kujadikan benda berharga dan kusimpan dengan dengan
baik dalam hidupku, setiap kali aku lalai dalam berkhidmat kepadamu akan aku
baca ulang kembali, tiap kali aku lengah darimu akan kutalqin diriku dengannya.
Akan kusimpan dalam lubuk hatiku sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiatku.
Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku bahwa ayah mereka dahulu pernah
lalai dalam berbakti, lalu sadar dan kembali kepada kebenaran, ayah mereka
pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yang seharusnya ia
cintai, lalu ia kembali kepada petunjuk.
Tua… siapa yang tidak mengalami ketuaan, wahai Bunda!! Badanku yang saat ini
tegap, rambutku hitam, kulitku kencang, akan datang suatu masa badan yang tegap
itu akan ringkih dimakan usia, rambut yang hitam akan dipenuhi uban ditelan
oleh masa dan kulit yang kencang itu akan menjadi keriput ditelan oleh zaman.
Burung elang yang terbang di angkasa, tidak pernah bermain kecuali di tempat
yang tinggi, suatu saat nanti dia akan jatuh jua, dikejar dan diperebutkan oleh
burung kecil lainnya. Singa si raja hutan yang selalu memangsa, jika telah tiba
tuanya, dia akan dikejar-kejar oleh anjing kecil tanpa ada perlawanan. Tidak
ada kekuasaan yang kekal, tidak ada kekayaan yang abadi, yang tersisa hanya
amal baik atau amal buruk yang akan dipertanggungjawabkan.
Ibu, do’akan anakmu ini agar menjadi anak yang berbakti kepadamu di masa banyak
anak yang durhaka kepada orang tuanya. Angkatlah ke langit munajatmu untukku
agar aku akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akherat.
Ibu… sesampainya suratku ini, insya Allah, tidak akan ada lagi air mata yang
jatuh karena ulah anakmu, setelah ini tidak ada lagi kejauhan antaraku
denganmu, bahagiamu adalah bahagiaku, kesedihanmu adalah kesedihanku, tawamu
adalah tawaku dan tangismu adalah tangisku. Aku berjanji untuk selalu berbakti
kepadamu buat selamanya dan aku berharap aku dapat membahagiakanmu selama
mataku masih berkedip.
Bahagiakanlah dirimu… buanglah segala kesedihan, cobalah tersenyum!! Ini kami,
aku, istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh di hadapanmu,
mencium tanganmu.
Salam hangat dari anakmu.
Sumber Tulisan ‘ Kutitip Surat Ini Untukmu’ karya Ustadz Armen Halim Naro, Lc
rahimahullah